Laporan Khusus: Minggu Adven I di Tepian Arguni Atas

Laporan Khusus: Minggu Adven I di Tepian Arguni Atas

Minggu Adven I di Tepian Arguni Atas: Di Mana Iman Sederhana Menjadi Cahaya

ARGUNI ATAS – Di mana jalan setapak membelah perbukitan dan sapaan alam menjadi paduan suara iman, Uskup Mgr. Hilarion Datus Lega membawa berkah Adven Pertama ke dua ujung Keuskupan. Pada Hari Minggu, 30 November 2025, Gereja Stasi St. Petrus di Kampung Persiapan Efara dan Stasi St. Petrus Bofuwer, keduanya di Distrik Arguni Atas, secara resmi menerima berkat dan menjadi saksi kehadiran Gereja yang hadir di pinggiran.

Perjalanan Iman: Melintasi Darat, Laut, dan Sungai

Perjalanan pastoral Bapak Uskup Mgr. Hilarion Datus Lega dan rombongan adalah sebuah ziarah itu sendiri, sebuah epos yang dimulai dari halaman Pra Paroki Santa Marta di Jalan Batu Putih, Kelurahan Kroy. Dari sana, rombongan melanjutkan perjalanan darat menuju Desa Tanggaromi, di mana aspal menyerah pada jalan tanah yang membelah hutan. Namun, petualangan sesungguhnya dimulai di tepi pantai Tanggaromi. Beberapa unit longboat, perahu panjang khas Papua, telah menanti. Dengan mesin yang menderu, mereka membelah lautan, memasuki muara sungai yang menjadi jalan gerbang rahasia menuju Efara dan Bofuwer. Perjalanan kurang lebih tiga jam itu terasa tak berselang. Pemandangan alam yang terbentang di kiri kanan sungai adalah lukisan Tuhan yang hidup: tebing hijau yang menjulang, air jernih yang memantulkan langit, dan di atas semuanya, suara burung-burung yang berkicau laksana paduan suara surgawi, menghibur dan menemani, mengubah sebuah perjalanan panjang menjadi sebuah renungan yang indah.

Perjalanan ini tidak hanya diisi oleh hierarki Gereja, tetapi juga oleh seluruh umat yang menjadi tiang penyangga Pra Paroki. Turut serta dalam rombongan Bapak Uskup adalah Bapak Francisco Edward Beruatwarin selaku Ketua DPH Pra Paroki Santa Marta, Bapak Alex Reyaan selaku Wakil Ketua DPH, serta para pengurus DPH lainnya yang setia mendampingi. Semangat muda juga turut mewarnai perjalanan dengan kehadiran para **Suster NISC**, **OMK** dan **Rekat** yang menjadi simbol kontinuitas iman. Di belakang layar, kebersamaan terjalin erat. Para **ibu-ibu Pra Paroki Santa Marta** dengan penuh kasih telah menyiapkan konsumsi untuk seluruh rombongan, sebuah kerja keras yang diatur dengan rapi di bawah koordinasi **Ibu Yospina Baru** dan **Ibu Rosalina Ura**.

Kehadiran Uskup bukan sekadar agenda pastoral, melainkan titik temu yang mempersatukan. Acara ini dihadiri oleh Wakil Bupati Isak Waryensi, Anggota DPRK, Fatamsyah Furu, Ka Distrik Arguni Atas, Arsyad Watora, Juan Neno wakil dari Paroki St. Monika Kambar, Keluarga besar Kementerian Agama Kab. Kaimana hingga umat Protestan dari beberapa kampung tetangga seprti Weswasa, Borogerba. Ini bukan sekadar kehadiran, ini adalah sebuah deklarasi bahwa di atas nama Tuhan, tidak ada sekat yang bisa memisahkan.

Tanda Iman yang Tak Terpisahkan

Wakil Bupati Isak Waryensi, dalam sambutannya, menyampaikan kekagumannya. “Saya terkejut dan terharu, di kampung kecil saja ada tiga gereja,” ujarnya. “Ini bukan hanya soal bangunan, tapi bukti nyata kerinduan masyarakat akan Tuhan.” Sebagai wujud dukungan konkret, ia menyerahkan 10 unit kipas angin untuk meringankan ibadah di ruang terbuka yang panas, sebuah bantuan praktis yang sangat berarti.

Fatamsyah Furu pun tak ketinggalan memuji keteguhan umat. “Masyarakat di sini luar biasa dalam mendukung pertumbuhan iman mereka. Ini adalah modal utama untuk pembangunan yang berkelanjutan,” puji Furu.

Sambutan Adat dari Tanah Leluhur

Sebelum memasuki area misa, rombongan Uskup dan tamu kehormatan disambut dengan ritual adat yang megah dari Suku Kuri. Di jalan yang menanjak dan terjal, para penari dengan langkah pasti mengarak Uskup, sambil mengalunkan nyanyian leluhur. Noken—tas anyaman khas Papua yang melambangkan kehidupan dan persatuan—dikalungkan satu per satu kepada Uskup, Wakil Bupati, dan tamu undangan. Ini adalah inkulturasi iman yang hidup, di mana budaya lokal menjadi bahasa utama dalam menyambut sang gembala.

Ekaristi dan Janji Natal di Tepian

“Iman yang sederhana harus terus ditumbuhkan dengan setia. Di sanalah Gereja benar-benar hadir, bukan dalam kemegahan, melainkan dalam keteguhan hati umat.”

Dalam homili yang penuh kelembutan di Misa Efara, yang dipimpin Uskup dan didampingi Romo Fan, Selaku Pastor Pra Paroki Santa Marta serta Romo Petrus dari Sorong, Uskup mengingatkan umat akan makna Adven. Namun, yang paling mencuri perhatian adalah pengumumannya: Natal 2027 akan dirayakan langsung di Efara dan Bofuwer. Keputusan ini adalah eklesiologi inkarnasional yang nyata—Gereja tidak menarik umat ke pusat, melainkan hadir di pinggiran, mengakui dan memuliakan iman yang tumbuh di sana.

Kegembiraan di Bofuwer dan Santapan Bersama

Di Bofuwer, sukacita tak kalah meriah. Uskup disambut oleh tarian Seka yang dibawakan oleh kelompok penari anak-anak Sekolah Dasar setempat. Dengan wajah berseri dan gerakan yang lincah, mereka menari lalu mengalungkan bunga segar kepada Uskup, Wakil Bupati, dan Fatamsyah Furu. Usai ibadah singkat dan pemberkatan, suasana kekeluargaan semakin terasa dalam resepsi meriah yang digelar di tiga lokasi berbeda. Setiap meja dihiasi hasil bumi: ubi, papeda, ikan bakar, dan kue-kue tradisional. Keamanan acara dijaga ketat namun humanis oleh personel Babinsa dan Polri yang berpakaian lengkap.

Lanjutan Misi: Berkat di Gua Maria

Perjalanan pastoral Uskup Hilarion Datus Lega tidak berhenti di sini. Pada Senin, 1 Desember 2025, agenda berlanjut dengan pemberkatan Gua Maria Pembantu Abadi di Stasi St. Timotius Werafuta, yang berada di bawah Paroki St. Monika, Kambar. Gua yang dibangun dengan gotong-royong oleh tangan-tangan umat ini menjadi simbol perlindungan surgawi di tengah tantangan geografis dan spiritual yang dihadapi oleh umat di pelosok.

Tim Peliputan & Dokumentasi

Wilhelmus Oladoko

Penulis Utama
Sekretaris Pra Paroki Santa Marta

Aprianto Bandaso

Penulis
Seksi Komsos
Paroki Santa Marta

Yosep Rahabav

Fotografer / Dokumentasi
(Tim Seksi Komsos Pra Paroki Santa Marta)