Kamis Putih
Belajar Merasa “Cukup”
dalam Kasih dan Pelayanan
Perayaan Ekaristi Kamis Putih — 02 April 2026, Pukul 19.00 WIT
Pastor Selebran & Kotbah: RP. Fransiskus Xaverius Nenga, O.Carm (Pastor Pra Paroki Santa Marta)
Ritus Pembasuhan Kaki — Teladan kasih & kerendahan hati setelah Kotbah
Tim Redaksi Komsos — Pra Paroki Santa Marta Krooy
Khotbah Malam Kamis Putih
“Belajar Merasa Cukup dalam Kasih dan Pelayanan” — diangkat dari pesan mendalam Romo Fransiskus Xaverius Nenga, O.Carm.
1. Ekaristi: Duduk Bersama dalam Kehangatan
Ekaristi sejatinya adalah momen di mana kita semua duduk, makan, dan minum bersama. Bayangkan suasana perjamuan terakhir; di sana ada kebersamaan, ada kasih persaudaraan. Namun, lebih dari sekadar makan bersama, Ekaristi mengajarkan satu nilai yang sangat penting di tengah dunia yang serba “kurang” ini, yaitu: Belajar Merasa Cukup.
Banyak dari kita hidup dalam kegelisahan karena selalu merasa kurang. Kurang harta, kurang perhatian, kurang jabatan. Padahal, kelimpahan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang tahu batas untuk berkata “cukup”. Jika kita selalu merasa kurang, maka sebanyak apa pun berkat Tuhan, kita tidak akan pernah merasakan bahagia sejati. Di dalam Ekaristi, Yesus memberikan diri-Nya—tubuh dan darah-Nya—dan itu sudah lebih dari cukup bagi keselamatan kita.
2. Pembasuhan Kaki: Merendahkan Diri untuk Mengasihi
Setelah Yesus memberikan teladan perjamuan, Ia melakukan sesuatu yang mengejutkan: Ia membasuh kaki para murid-Nya. Ini bukan sekadar gerakan simbolis, melainkan pesan kuat bahwa setelah dikuatkan oleh Ekaristi, tugas kita adalah keluar dan melayani. Kasih itu harus dibagikan. Jika Anda merasa sudah cukup dicintai oleh Tuhan, bagikanlah cinta itu kepada sesama.
Untuk anak-anak: Berkat akan selalu mengalir dalam hidupmu jika kau merasa cukup dengan apa yang diberikan orang tuamu dan menghargai mereka. Kegelisahan batin sering kali muncul saat kita berhenti bersyukur dan mulai menuntut lebih dari yang bisa diberikan sesama.
3. Panggilan untuk Bertobat dan Melayani
Saudara-saudari, malam ini kita diajak untuk melihat kembali hubungan kita dengan orang-orang terdekat. Apakah kita sudah saling melayani? Ataukah kita justru saling menyakiti? Mari kita jadikan Malam Kamis Putih ini sebagai momen pertobatan. Jika selama ini ada hati yang terluka di dalam keluarga atau komunitas, basuhlah luka itu dengan kerendahan hati. Jadilah pribadi yang “Ekaristis”—pribadi yang tahu bersyukur, tahu merasa cukup, dan rela memecah diri (berkorban) demi kebahagiaan orang lain.
Mari kita masuk ke dalam ritus pembasuhan kaki ini dengan hati yang terbuka. Semoga kita tidak hanya menjadi penonton, tetapi benar-benar pelaku kasih yang diajarkan oleh Kristus. Tuhan memberkati.

Pesan yg kontekstual sekali bagi umat semua lapisan….