Santo Petrus – Ketua Para Rasul ( Paus Pertama Gereja Katolik)

Lukisan Karya Pietro Perugino (1481–1482)
Santo Petrus (lahir Shimon bar Yonah; 1 SM – 64/68 M), juga dikenal sebagai Petrus Rasul, Simon Petrus, Simeon, Simon, atau Kefas, adalah salah satu dari Dua Belas Rasul Yesus dan salah satu pemimpin pertama Gereja Kristen awal. Ia muncul berulang kali dan menonjol dalam keempat Injil Perjanjian Baru, serta dalam Kisah Para Rasul. Tradisi Katolik dan Ortodoks menganggap Petrus sebagai uskup pertama Roma – atau paus – dan juga sebagai uskup pertama Antiokhia.
Kepemimpinan Petrus atas jemaat awal diperkirakan berlangsung sejak tahun 30 atau 33 M hingga kematiannya; tanggal-tanggal ini menunjukkan bahwa ia bisa saja merupakan paus dengan masa jabatan terlama, yakni antara 31 hingga 38 tahun, meskipun hal ini tidak pernah diverifikasi. Menurut tradisi Kristen, Petrus disalibkan di Roma pada masa Kaisar Nero.
Gereja-gereja Kristen kuno semuanya menghormati Petrus sebagai santo besar dan pendiri Gereja Antiokhia serta Gereja Roma, namun mereka berbeda pandangan mengenai otoritas para penerusnya. Menurut ajaran Katolik, Yesus menjanjikan kepada Petrus kedudukan istimewa dalam Gereja. Dalam Perjanjian Baru, nama “Simon Petrus” muncul sebanyak 19 kali. Ia adalah saudara dari Andreas, dan keduanya berprofesi sebagai nelayan. Injil Markus, khususnya, secara tradisional diyakini menunjukkan pengaruh dari khotbah dan kenangan langsung Petrus. Ia juga disebutkan, baik dengan nama Petrus maupun Kefas, dalam Surat Pertama Paulus kepada Jemaat di Korintus dan Surat Paulus kepada Jemaat di Galatia. Perjanjian Baru juga memuat dua surat umum, yaitu 1 Petrus dan 2 Petrus, yang secara tradisional dianggap ditulis olehnya, meskipun para sarjana modern umumnya menolak atribusi tersebut.
Irenaeus (± 130 – ± 202 M) menjelaskan tentang Rasul Petrus, Tahtanya, dan para penggantinya dalam buku III Adversus Haereses (Melawan Ajaran Sesat). Dalam buku itu, Irenaeus menulis bahwa Petrus dan Paulus mendirikan serta mengorganisasi Gereja di Roma.
Sumber-sumber kuno menunjukkan bahwa pada awalnya, istilah episkopos (uskup) dan presbyteros (penatua) digunakan secara bergantian, dengan kesepakatan umum di kalangan para sarjana bahwa pada pergantian abad pertama dan kedua, jemaat lokal dipimpin oleh uskup dan penatua, dengan tugas-tugas yang tumpang tindih atau tidak dapat dibedakan satu sama lain. Sejarawan Protestan dan sekuler umumnya sepakat bahwa kemungkinan besar tidak ada “uskup monarki tunggal” di Roma sebelum pertengahan abad ke-2, atau bahkan lebih lambat.
Di luar Perjanjian Baru, beberapa kitab apokrif kemudian dikaitkan dengan Petrus, antara lain Kisah Petrus, Injil Petrus, Pemberitaan Petrus, Wahyu Petrus, dan Penghakiman Petrus, meskipun para sarjana percaya bahwa karya-karya ini adalah pseudepigrafa (tulisan dengan nama samaran).
Nama dan Etimologi
Injil Perjanjian Baru memperlihatkan bahwa nama asli Petrus adalah Simon (/ˈsaɪmən/; Σίμων, Simōn dalam bahasa Yunani). Hanya dalam dua bagian namanya dieja sebagai Simeon (Συμεών dalam bahasa Yunani). Variasi ini kemungkinan mencerminkan kebiasaan umum orang Yahudi pada masa itu untuk memberikan nama patriark atau tokoh terkenal dari Perjanjian Lama kepada anak laki-laki (Simeon), bersamaan dengan nama Yunani/Romawi yang terdengar mirip (Simon).
Ia kemudian diberi nama oleh Yesus yaitu Kefas (/ˈsiːfəs/), dari bahasa Aram כֵּיפָא (Kepha), yang berarti “batu/karang”. Dalam terjemahan Alkitab dari bahasa Yunani asli, namanya tetap dipertahankan sebagai Kefas dalam sembilan bagian Perjanjian Baru, sedangkan dalam sebagian besar penyebutan lainnya (156 kali dalam Perjanjian Baru), ia disebut Πέτρος (Petros), dari kata Yunani dan Latin untuk “batu/karang” (petra), yang kemudian diberi akhiran maskulin, dan dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai Peter (Petrus).
Makna pasti dari kata Aram ini masih diperdebatkan: ada yang mengatakan maknanya adalah “batu” atau “karang”, sementara yang lain menafsirkannya sebagai “batu kecil” atau bahkan “permata”. Namun sebagian besar sarjana setuju bahwa sebagai nama diri, kata itu menunjukkan pribadi yang keras atau tangguh. Kedua makna, baik “batu” (permata atau batu pahat) maupun “karang”, tercatat dalam kamus bahasa Aram dan Siria.
Teolog Katolik Rudolf Pesch berpendapat bahwa kata Aram tersebut berarti “batu berharga” untuk menunjuk pada pribadi yang menonjol. Namun, hal ini belum terbukti secara memadai, sebab penggunaan akar kata Aram kp sebagai nama pribadi belum pernah terbukti, dan hampir tidak ada contoh yang menunjukkan kata itu berarti “batu berharga”.
Nama gabungan Σίμων Πέτρος (Símon Pétros, Simon Petrus) muncul sebanyak 19 kali dalam Perjanjian Baru. Dalam beberapa dokumen Siria, ia disebut, dalam terjemahan bahasa Inggris, Simon Kefas.
Sumber-Sumber
Sumber-sumber yang digunakan untuk merekonstruksi kehidupan Petrus dapat dibagi menjadi tiga kelompok:
- Tulisan-tulisan Perjanjian Baru, seperti Surat-surat Paulus (di mana Rasul Paulus menyebutnya “Kefas” dan “Petrus”), Surat-surat Petrus (yang secara tradisional dianggap ditulis olehnya, tetapi kepenulisannya masih diperdebatkan), Injil-injil Kanonik, dan Kisah Para Rasul.
- Apokrifa Perjanjian Baru yang dikaitkan dengan Petrus, seperti Injil Petrus, Pemberitaan Petrus, Kisah Petrus, Kisah Petrus dan Andreas, Kisah Petrus dan Kedua Belas Rasul, Kisah Petrus dan Paulus, Surat Petrus kepada Filipus, Surat Petrus kepada Yakobus yang Adil, Wahyu Petrus, dan Wahyu Petrus versi Koptik. Para sarjana sepakat bahwa tulisan-tulisan ini merupakan pseudepigrafa (tulisan dengan nama samaran) yang muncul belakangan dengan nilai historis yang kecil, meskipun mungkin mengandung inti sejarah tertentu.
- Tulisan para Bapa Apostolik dan Bapa Gereja, seperti Papias dari Hierapolis, Paus Klemens I, Polikarpus, Ignatius dari Antiokhia, dan Ireneus.
Dalam Perjanjian Baru, Petrus termasuk di antara murid-murid pertama yang dipanggil selama pelayanan Yesus. Petrus menjadi rasul pertama yang dicatat sebagai ditahbiskan oleh Yesus dalam Gereja awal.
Catatan
Gereja Santo Petrus di Kapernaum, yang terletak di sisi utara Danau Galilea; sebuah gereja Fransiskan dibangun di atas lokasi tradisional yang diyakini sebagai rumah Rasul Petrus.

Petrus adalah seorang nelayan Yahudi yang lahir di Betsaida. Ia diberi nama Simon, putra seorang pria bernama Yona atau Yohanes. Ketiga Injil Sinoptik menceritakan bagaimana ibu mertua Petrus disembuhkan oleh Yesus di rumah mereka di Kapernaum; bagian ini menggambarkan bahwa Petrus menikah atau mungkin pernah menjadi duda. Surat 1 Korintus 9:5 juga sering ditafsirkan sebagai bukti bahwa ia menikah.
Dalam Injil-injil Sinoptik, Petrus (saat itu masih bernama Simon) adalah seorang nelayan bersama saudaranya Andreas dan anak-anak Zebedeus, yaitu Yakobus dan Yohanes. Injil Yohanes juga menggambarkan Petrus sedang menangkap ikan, bahkan setelah kebangkitan Yesus, dalam kisah tentang tangkapan 153 ekor ikan. Dalam Injil Matius dan Markus, Yesus memanggil Simon dan saudaranya Andreas untuk menjadi “penjala manusia.”
Dalam Pengakuan Petrus, ia menyatakan bahwa Yesus adalah Kristus (Mesias Yahudi), sebagaimana diceritakan dalam ketiga Injil Sinoptik.[44][45][46] Di daerah Kasarea Filipi, ia menerima dari Yesus nama Kefas (Kepha dalam bahasa Aram), atau Petrus (Petros dalam bahasa Yunani).
Dalam Injil Lukas, Simon Petrus memiliki perahu yang digunakan Yesus untuk berkhotbah kepada orang banyak yang berdesakan di tepi Danau Genesaret.[47] Lalu Yesus membuat Simon dan rekan-rekannya, Yakobus dan Yohanes (Andreas tidak disebutkan), takjub dengan menyuruh mereka menurunkan jala, dan mereka menangkap ikan dalam jumlah yang sangat banyak. Segera setelah peristiwa ini, mereka pun mengikuti Yesus.[48]
Injil Yohanes memberikan kisah serupa tentang “Murid-murid Pertama.”[49] Di sana dikatakan bahwa dua murid Yohanes Pembaptis (Andreas dan seorang murid yang tidak disebut namanya) mendengar Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai “Anak Domba Allah”, lalu mereka mengikuti Yesus. Andreas kemudian pergi kepada saudaranya, Simon, dan berkata: “Kami telah menemukan Mesias.” Ia membawa Simon kepada Yesus, dan Yesus langsung menamainya “Kefas.”[35]
Tiga dari empat Injil—Matius, Markus, dan Yohanes—mencatat kisah Yesus berjalan di atas air. Injil Matius menambahkan bahwa Petrus sempat berjalan di atas air, tetapi mulai tenggelam ketika imannya goyah.[50]
Pada awal Perjamuan Terakhir, Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya. Petrus awalnya menolak agar Yesus membasuh kakinya, tetapi ketika Yesus berkata: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku,” Petrus menjawab: “Tuhan, bukan hanya kakiku saja, melainkan juga tangan dan kepalaku.”[51] Upacara pembasuhan kaki ini sering diulangi dalam ibadah Kamis Putih (Maundy Thursday) oleh Gereja Katolik.
Ketiga Injil Sinoptik semuanya menyebutkan bahwa ketika Yesus ditangkap, salah satu murid-Nya menebas telinga seorang hamba Imam Besar Israel.[52][53][54] Injil Yohanes juga mencatat peristiwa ini dan menyebut Petrus sebagai orang yang menghunus pedang serta Malkhus sebagai korbannya.

Injil Lukas menambahkan bahwa Yesus menyentuh telinga itu dan menyembuhkannya secara ajaib.[56] Penyembuhan telinga hamba ini merupakan mukjizat terakhir dari 37 mukjizat yang dinisbatkan kepada Yesus dalam Alkitab.
Simon Petrus dua kali dihadapkan bersama Yohanes di depan Sanhedrin dan secara langsung menentang mereka.[57][58] Petrus melakukan perjalanan misioner ke Lida, Yope, dan Kasarea.[59] Di Yope, Petrus mendapat sebuah penglihatan dari Allah yang memperbolehkan memakan hewan-hewan yang sebelumnya dianggap najis. Penglihatan ini kemudian membawa jemaat mula-mula pada keputusan untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa non-Yahudi (orang kafir).[60] Simon Petrus menerapkan pesan dari penglihatan itu kepada orang-orang bukan Yahudi, dan setelah perjumpaannya dengan Kornelius sang perwira Romawi, ia menyatakan bahwa “Allah tidak membedakan orang.”
Menurut Kisah Para Rasul, Petrus dan Yohanes diutus dari Yerusalem ke Samaria.[61] Petrus (atau Kefas) disebut secara singkat dalam pasal pembukaan salah satu surat Paulus, yaitu Surat kepada Jemaat di Galatia, yang menyebut perjalanan Paulus ke Yerusalem di mana ia bertemu dengan Petrus.[62] Petrus kembali disebut dalam Galatia, empat belas tahun kemudian, ketika Paulus (kali ini bersama Barnabas dan Titus) kembali ke Yerusalem.[63] Ketika Petrus datang ke Antiokhia, Paulus menentangnya secara terbuka “karena ia (Petrus) bersalah.”
Kisah Para Rasul pasal 12 menceritakan bagaimana Petrus, yang berada di Yerusalem, dimasukkan ke dalam penjara oleh Herodes Agripa (memerintah tahun 42–44 M), tetapi kemudian diselamatkan oleh seorang malaikat. Setelah dibebaskan, Petrus meninggalkan Yerusalem untuk pergi ke “tempat lain.”[65]
Mengenai kegiatan Petrus selanjutnya, tidak ada lagi informasi yang berkesinambungan dari sumber-sumber yang masih ada, meskipun terdapat catatan singkat tentang beberapa peristiwa tertentu dari kehidupan Petrus di masa kemudian.
Istri Petrus
Injil-injil Sinoptik menyebutkan bahwa Petrus memiliki seorang ibu mertua pada saat ia mengikuti Yesus, dan Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus itu.[66] Namun, Injil tidak memberikan informasi apa pun mengenai istrinya.
Klemens dari Aleksandria menyatakan bahwa istri Petrus dieksekusi karena imannya oleh otoritas Romawi, tetapi ia tidak menyebutkan tanggal maupun lokasi peristiwa tersebut.[67] Pendapat lain mengatakan bahwa istri Petrus sudah tidak hidup lagi pada saat ia bertemu dengan Yesus, sehingga Petrus adalah seorang duda.
Pemimpin Pertama Gereja Awal
Artikel utama: Kekristenan Yahudi dan Kekristenan Awal
Injil-injil dan Kisah Para Rasul menggambarkan Petrus sebagai rasul yang paling menonjol, meskipun ia sempat menyangkali Yesus tiga kali pada peristiwa penyaliban. Menurut tradisi Kristen, Petrus adalah murid pertama yang menampakkan diri kepada Yesus setelah kebangkitan-Nya, yang dipandang sebagai bentuk pemulihan atas penyangkalannya dan pengembalian kedudukannya.
Petrus dianggap sebagai pemimpin pertama Gereja mula-mula, terutama di Gereja Yerusallem meskipun dalam waktu singkat kepemimpinan ini kemudian lebih banyak dipegang oleh Yakobus yang Adil, “saudara Tuhan.”[71][72] Karena Petrus adalah orang pertama yang menampakkan diri kepada Yesus, maka kepemimpinan Petrus menjadi dasar dari suksesi apostolik dan kekuasaan kelembagaan ortodoksi yang tampak pada suksesi di Gereja Katolik sebagai Petrus sebagai Paus Pertama dan diteruskan sampai sekarang tahta Petrus kepada Paus Leo IX dengan nama asli Robert Francis Prevost dari Ordo Santo Agustinius yang merupakan Paus ke 267 yang terpilih 08 Mei 2025 tanpa putus. Petrus artinya sebagai “batu karang” tempat Gereja akan dibangun oleh Kristus dan sekali lagi tampak dalam diri Gereja Katolik.
Posisi di antara para rasul
St. Peter Memberitakan Injil di Katakomba oleh Jan Styka
Petrus selalu disebutkan pertama di antara Kedua Belas Rasul dalam Injil[74] dan dalam Kisah Para Rasul.[75] Bersama dengan Yakobus Tua dan Yohanes, ia membentuk sebuah triumvirat informal dalam kelompok Kedua Belas Rasul. Yesus mengizinkan mereka bertiga saja yang hadir pada tiga peristiwa khusus selama pelayanan-Nya di muka umum, yaitu Kebangkitan putri Yairus,[76] Peristiwa Transfigurasi Yesus,[77] dan Penderitaan di Taman Getsemani.[78] Petrus sering kali menyatakan imannya bahwa Yesus adalah Mesias.
Petrus sering digambarkan dalam Injil sebagai juru bicara semua Rasul.[79] John Vidmar, seorang sarjana Katolik, menulis: “Para sarjana Katolik sepakat bahwa Petrus memiliki otoritas yang melampaui para rasul lainnya. Petrus adalah juru bicara mereka dalam berbagai peristiwa, ia memimpin pemilihan Matias, pendapatnya dalam perdebatan tentang pertobatan orang-orang non-Yahudi sangatlah penting, dan sebagainya.”[80]
Penulis Kisah Para Rasul menggambarkan Petrus sebagai tokoh sentral dalam komunitas Kristen perdana.
Penyangkalan Petrus terhadap Yesus
Keempat Injil kanonik menceritakan bahwa, pada Perjamuan Terakhir, Yesus telah menubuatkan bahwa Petrus akan menyangkal-Nya tiga kali sebelum ayam berkokok (“sebelum ayam berkokok dua kali” dalam catatan Markus). Ketiga Injil Sinoptik dan Injil Yohanes menggambarkan tiga penyangkalan tersebut sebagai berikut:
- Penyangkalan pertama terjadi ketika seorang hamba perempuan dari imam besar melihat Simon Petrus, sambil berkata bahwa ia pernah bersama Yesus. Menurut Markus (tetapi tidak dalam semua naskah), “ayam itu berkokok”. Hanya Lukas dan Yohanes yang menyebutkan adanya api unggun tempat Petrus menghangatkan diri bersama orang lain: menurut Lukas, Petrus sedang “duduk”; menurut Yohanes, ia sedang “berdiri”.
- Penyangkalan kedua terjadi ketika Simon Petrus pergi keluar ke gerbang, menjauh dari cahaya api unggun. Namun hamba perempuan yang sama (menurut Markus) atau hamba perempuan lain (menurut Matius) atau seorang laki-laki (menurut Lukas dan juga Yohanes—bagi Yohanes ini justru penyangkalan ketiga) mengatakan kepada orang-orang di sekitarnya bahwa Petrus adalah pengikut Yesus. Menurut Yohanes, “ayam itu berkokok”. Injil Yohanes menempatkan penyangkalan kedua ini ketika Petrus masih menghangatkan diri di api unggun, dan menambahkan bahwa penyangkalan ketiga muncul ketika seseorang mengaku pernah melihatnya di taman Getsemani saat Yesus ditangkap.
- Penyangkalan ketiga terjadi ketika logat Galilea Petrus dianggap sebagai bukti bahwa ia memang murid Yesus. Menurut Matius, Markus, dan Lukas, “ayam itu berkokok”. Matius menambahkan bahwa logatnya yang khas itulah yang membuatnya dikenali berasal dari Galilea. Lukas sedikit berbeda dengan menyatakan bahwa bukan kerumunan orang yang menuduh Petrus, melainkan seorang individu ketiga. Yohanes tidak menyebutkan soal logat Galilea ini.
Dalam Injil Lukas terdapat catatan bahwa Kristus berkata kepada Petrus: “Simon, Simon, lihatlah, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untukmu supaya imanmu jangan gugur; dan engkau, apabila engkau sudah insaf, teguhkanlah saudara-saudaramu.” Dalam sebuah adegan yang mengingatkan kembali pada peristiwa itu dalam epilog Injil Yohanes, Petrus menyatakan tiga kali bahwa ia mengasihi Yesus.
Penampakan Yesus Setelah Kebangkitan
Surat Pertama Paulus kepada Jemaat di Korintus[87] memuat sebuah daftar penampakan Yesus yang bangkit, dan yang pertama disebutkan adalah penampakan kepada Petrus.[88] Di sini, Paulus tampaknya mengikuti suatu tradisi awal bahwa Petrus adalah orang pertama yang melihat Kristus yang telah bangkit,[33] meskipun tradisi ini tidak bertahan sampai masa penulisan Injil.[89]
Dalam Injil Yohanes, Petrus adalah orang pertama yang masuk ke dalam kubur kosong, meskipun para perempuan dan murid yang dikasihi lebih dahulu melihatnya.[90] Dalam catatan Lukas, laporan para perempuan tentang kubur kosong dianggap omong kosong oleh para rasul, dan hanya Petrus yang pergi memeriksanya sendiri dengan berlari menuju kubur. Setelah melihat kain kafan, ia pulang, tampaknya tanpa memberitahu murid-murid yang lain.[91]
Dalam pasal terakhir Injil Yohanes, Petrus—dalam salah satu penampakan Yesus yang bangkit—tiga kali menegaskan cintanya kepada Yesus, sebagai penyeimbang atas tiga kali penyangkalannya. Pada saat itu Yesus kembali meneguhkan kedudukan Petrus. Gereja Primasi Santo Petrus di tepi Danau Galilea dipandang sebagai tempat tradisional di mana Yesus Kristus menampakkan diri kepada para murid-Nya setelah kebangkitan, dan menurut tradisi Katolik, di situlah Yesus menetapkan yurisdiksi tertinggi Petrus atas Gereja Kristen.
Pemimpin Gereja Perdana
Petrus dianggap bersama dengan Yakobus yang Adil dan Yohanes Rasul sebagai tiga Pilar Gereja.[92] Dengan legitimasi dari penampakan Yesus kepadanya, Petrus mengambil alih kepemimpinan kelompok para pengikut mula-mula, membentuk ekklēsia Yerusalem yang disebutkan oleh Paulus.[69][70] Namun, tidak lama kemudian peran kepemimpinannya digantikan oleh Yakobus yang Adil, “Saudara Tuhan”. Ini terjadi karena Petrus pergi ke kota Anthokia untuk menyerbakan Injil dan sebagai Uskup pertama di Kota Athokia sebelum melanjutkan ke Kota Roma dan menjadi Uskup di kota Roma.
Koneksi dengan Roma
Gereja Katolik menyebut paus, uskup Roma, sebagai penerus Santo Petrus. Hal ini sering ditafsirkan sebagai petunjuk bahwa Petrus adalah Uskup Roma yang pertama. Namun, juga dikatakan bahwa lembaga kepausan tidak bergantung pada gagasan bahwa Petrus adalah Uskup Roma atau bahkan bahwa ia pernah berada di Roma.[112]
Menurut Against Heresies (Melawan Bidat) buku III, bab 3 (180 M) karya Irenaeus dari Lyons, Linus disebut sebagai penerus Petrus dan diakui oleh Gereja Katolik sebagai Uskup Roma kedua (paus), diikuti oleh Anacletus, Klemens dari Roma, Evaristus, Alexander, Sixtus, Telesphorus, Hyginus, Pius, Anicetus, Soter, dan Eleutherius.[113]
Dalam Church History (Sejarah Gereja), Eusebius mencatat bahwa Linus menggantikan Petrus sebagai uskup Gereja di Roma:[114]
Mengenai murid-muridnya yang lain, Paulus bersaksi bahwa Crescens diutus ke Galia; tetapi Linus, yang ia sebut dalam Surat Kedua kepada Timotius sebagai temannya di Roma, adalah penerus Petrus dalam jabatan uskup di gereja tersebut, sebagaimana telah ditunjukkan.
— Eusebius dari Kaisarea, Church History, Buku III, Bab 4
Menurut buku Prescription against Heretics karya Tertullian, disebutkan bahwa Klemens ditahbiskan oleh Petrus sebagai uskup Roma:[115]
…sebagaimana juga gereja Roma, yang menyatakan bahwa Klemens telah ditahbiskan dengan cara yang sama oleh Petrus.
— Tertullian, Prescription against Heretics, Bab 32
Santo Klemens dari Roma mengidentifikasi Petrus dan Paulus sebagai pahlawan iman yang luar biasa.[33]
Kedatangan ke Roma
Catatan Perjanjian Baru
Tidak ada bukti alkitabiah yang jelas bahwa Petrus pernah berada di Roma, tetapi Surat Pertama Petrus memang menyebutkan: “Gereja yang ada di Babilon, yang turut terpilih bersama kamu, menyapamu; demikian juga Markus, anakku.”[116] Sebagian besar sarjana sepakat bahwa kota yang dimaksud dalam ayat ini adalah Roma, karena “Babilon” adalah julukan umum untuk Roma dalam literatur Yahudi dan Kristen pada masa itu, meski kebanyakan muncul setelah penghancuran Bait Allah pada tahun 70 M (setelah kematian Petrus).[117][118][119]
Surat Paulus kepada Jemaat di Roma, ditulis sekitar tahun 57 M,[120] menyapa sekitar lima puluh orang di Roma dengan menyebut nama mereka,[121] tetapi tidak menyebut Petrus yang ia kenal. Tidak ada pula catatan tentang Petrus di Roma selama Paulus tinggal dua tahun di sana (Kisah Para Rasul 28, sekitar 60–62 M). Kisah Para Rasul 28 juga tidak secara khusus menyebutkan pengunjung Paulus.
Para Bapa Gereja
Tulisan Bapa Gereja abad pertama, Ignatius dari Antiokhia (± 35 – ± 107), menyebut Petrus dan Paulus memberi nasihat kepada jemaat di Roma, yang menunjukkan kehadiran Petrus di sana.[122]
Irenaeus dari Lyons (± 130 – ± 202) menulis pada abad ke-2 bahwa Petrus dan Paulus adalah pendiri Gereja di Roma dan telah menunjuk Linus sebagai uskup penerus mereka.[9][123]
Klemens dari Aleksandria (± 150 – ± 215) menyatakan bahwa “Petrus memberitakan Firman secara terbuka di Roma (190 M).”[124]
Menurut Origenes (184–253)[105] dan Eusebius,[106] Petrus “setelah pertama kali mendirikan gereja di Antiokhia, pergi ke Roma memberitakan Injil, dan ia juga, setelah memimpin gereja di Antiokhia, memimpin gereja di Roma sampai wafatnya.”[125] Setelah itu, ia digantikan oleh Evodius[126] lalu oleh Ignatius, murid Yohanes Rasul.[127]
Lactantius, dalam bukunya Of the Manner in Which the Persecutors Died (± 318 M), menulis: “Pada masa pemerintahan Nero, Rasul Petrus datang ke Roma, dan melalui kuasa Allah yang diberikan kepadanya, ia mengadakan mukjizat, membawa banyak orang kepada agama sejati, dan membangun bait yang setia dan teguh bagi Tuhan.”[128]
Simon Magus
Eusebius dari Kaisarea (260/265 – 339/340) menceritakan bahwa ketika Petrus menghadapi Simon Magus di Yudea (disebut dalam Kisah Para Rasul 8), Simon melarikan diri ke Roma, di mana orang Roma mulai menganggapnya sebagai dewa. Namun, menurut Eusebius, keberuntungannya tidak bertahan lama, sebab Allah mengutus Petrus ke Roma, dan Simon segera dikalahkan serta dibinasakan.[129]
Menurut Hieronimus (327–420): “Petrus pergi ke Roma pada tahun kedua pemerintahan Klaudius untuk menggulingkan Simon Magus, dan memegang takhta imamat di sana selama 25 tahun hingga tahun keempat belas pemerintahan Nero.”[130]
Sebuah karya apokrifa Actus Vercellenses (abad ke-7), sebuah teks Latin yang hanya bertahan dalam satu naskah, kemudian diterjemahkan secara luas dengan judul Acts of Peter, menempatkan konfrontasi Petrus dengan Simon Magus di Roma.
Gereja Katolik
Primasi Simon Petrus dan Primasi Kepausan Menurut keyakinan Katolik, Simon Petrus dibedakan secara khusus oleh Yesus untuk memegang tempat pertama dalam kehormatan dan otoritas. Juga dalam keyakinan Katolik, Petrus adalah Uskup Roma pertama, sekaligus Paus pertama. Lebih jauh lagi, mereka menganggap setiap Paus sebagai penerus Petrus dan pemimpin yang sah atas semua uskup lainnya.[210] Namun, Petrus sendiri tidak pernah menyandang gelar “Paus” atau “Vikaris Kristus”.[211]
Pengakuan Gereja Katolik terhadap Petrus sebagai kepala gereja di bumi (dengan Kristus sebagai kepala surgawi) didasarkan pada penafsiran atas bagian-bagian dari Injil kanonik Perjanjian Baru, serta tradisi suci.
Yohanes 21:15–17
Bagian pertama adalah Yohanes 21:15–17: “Gembalakanlah domba-domba-Ku… Peliharalah domba-domba-Ku… Gembalakanlah domba-domba-Ku”[212] (dalam bahasa Yunani: Ποίμαινε, artinya memberi makan dan memimpin sebagai gembala [ayat 16], sedangkan Βόσκε, artinya memberi makan [ayat 15 & 17])[213]. Hal ini dipandang umat Katolik sebagai janji Kristus atas supremasi rohani kepada Petrus. Ensiklopedia Katolik tahun 1913 melihat bagian ini sebagai Yesus “memberi tanggung jawab [kepada Petrus] atas seluruh kawanan-Nya, tanpa terkecuali; dan karenanya atas seluruh jemaat-Nya, yaitu gereja-Nya sendiri”.[210]
Matius 10:2
Dalam bagian ini, penginjil menulis: “Pertama, Simon yang disebut Petrus…” Kata Yunani untuk “pertama” (protos), yang berasal dari Yunani kuno πρῶτος, dapat berarti primasi dalam dasar/fondasi, bukan hanya dalam arti numerik.[214]
Matius 16:18
Bagian lain adalah Matius 16:18–19:
“Aku berkata kepadamu: Engkaulah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan membangun jemaat-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga; apa yang kauikat di bumi akan terikat di surga, dan apa yang kaulepaskan di bumi akan terlepas di surga.”
— Matius 16:18–19 (NIV)[215]
Etimologi
Dalam kisah panggilan murid, Yesus memanggil Simon Petrus dengan istilah Yunani Κηφᾶς (Kephas), bentuk Helenisasi dari Aram ܟ݁ܺܐܦ݂ܳܐ (keepa), yang berarti “batu/karang”, sebuah istilah yang sebelumnya tidak digunakan sebagai nama pribadi:
“Yesus memandang dia dan berkata: Engkau Simon anak Yohanes, engkau akan disebut Kephas (yang ditafsirkan: Petrus).”
— Yohanes 1:42
Yesus kemudian menyinggung julukan ini setelah Petrus menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias:
“Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkaulah Petrus [Petros] dan di atas batu karang [petra] ini Aku akan mendirikan gereja-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya.”
— Matius 16:18
Versi Peshitta dalam bahasa Siria menerjemahkan kata-kata Yesus ke dalam bahasa Aram dengan keepa untuk kedua istilah “Petrus” dan “batu karang”.[223]
Paulus dari Tarsus kemudian menggunakan sebutan Kephas ketika merujuk pada Petrus.[224]
Penafsiran Matius 16:18
Untuk memahami lebih baik apa maksud Kristus, St. Basilius menjelaskan:[225]
“Meskipun Petrus adalah batu karang, ia bukan batu karang sebagaimana Kristus. Kristus adalah batu karang sejati yang tidak tergoyahkan dengan sendirinya, sementara Petrus menjadi teguh karena Kristus, Sang Batu Karang. Yesus membagikan martabat-Nya, tanpa kehilangan martabat itu, tetapi tetap memegangnya sambil menganugerahkannya kepada orang lain. Ia adalah terang, namun juga berkata: kalian adalah terang; Ia adalah Imam, namun Ia juga menjadikan imam; Ia adalah batu karang, dan Ia menjadikan [Petrus] batu karang.”
Simbolisme
Mengacu pada pekerjaan Petrus sebelum menjadi rasul, para Paus mengenakan Cincin Nelayan, bergambar Santo Petrus menjala ikan dari perahu. Kunci yang dipakai sebagai simbol otoritas Paus merujuk pada “kunci Kerajaan Surga” yang dijanjikan kepada Petrus.[226]
Dalam seni Kristen Barat maupun Timur, Petrus sering digambarkan memegang kunci.
Dalam bahasa Yunani asli, kata “Petrus” adalah Πέτρος (Petros) dan kata “batu karang” adalah πέτρα (petra). Meskipun berbeda, keduanya menunjukkan permainan kata yang sering dipakai Yesus. Dalam bahasa Aram (bahasa percakapan Yesus dan Petrus), keduanya sama-sama diterjemahkan sebagai kepha.
Perdebatan Penafsiran
- Katolik: menafsirkan bahwa “batu karang” adalah Petrus sendiri, yang menerima janji Kristus untuk menjadi dasar Gereja.
- Protestan: banyak yang menafsirkan “batu karang” bukan Petrus, melainkan Kristus sendiri atau iman Petrus. Mereka mengutip perbedaan kata Yunani petros (kerikil) dan petra (batu besar). Namun, banyak sarjana berpendapat bahwa dalam bahasa Yunani Koiné, kedua kata itu tidak memiliki perbedaan besar.
Kesaksian Para Bapa Gereja
Banyak Bapa Gereja awal, seperti Tertulianus, menegaskan hubungan antara Matius 16:18 dengan primasi Petrus dan jabatannya:
“Tuhan berkata kepada Petrus: ‘Di atas batu karang ini Aku akan membangun Gereja-Ku; Aku telah memberikan kepadamu kunci Kerajaan Surga; apa yang kauikat di bumi akan terikat di surga, dan apa yang kaulepaskan di bumi akan terlepas di surga.’ … Atasmu, kata-Nya, Aku akan membangun Gereja-Ku; dan Aku akan memberikan kepadamu kunci-kunci itu, bukan kepada Gereja.”
Kematian dan Pemakaman
Dalam epilog Injil Yohanes,[133] Yesus digambarkan seakan memberi isyarat tentang kematian Petrus: “Tetapi apabila engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu, dan orang lain akan mengikatkan ikat pinggang kepadamu dan membawa engkau ke tempat yang tidak kau kehendaki.”[134] Hal ini ditafsirkan oleh sebagian orang sebagai nubuat tentang penyaliban Petrus.[86] Teolog Unitarian Donald Fay Robinson mengemukakan bahwa peristiwa dalam Kisah Para Rasul 12:1–17,[135] ketika Petrus “dibebaskan oleh seorang malaikat” dan pergi ke “tempat lain”, sebenarnya adalah kisah yang sudah dilegendakan tentang kematiannya, yang mungkin terjadi di penjara Yerusalem sekitar tahun 44 M.[136]
Tradisi awal Gereja menyatakan bahwa Petrus mati dengan cara disalibkan (dengan tangan terentang) pada masa Kebakaran Besar Roma tahun 64. Kemungkinan besar ini terjadi tiga bulan setelah kebakaran besar yang menghancurkan Roma, di mana Kaisar Nero berusaha menyalahkan orang-orang Kristen. Hari itu adalah dies imperii (hari peringatan naik takhta) yang penting, tepat sepuluh tahun setelah Nero naik takhta, dan seperti biasa[butuh klarifikasi] disertai dengan banyak pertumpahan darah. Secara tradisional, otoritas Romawi menjatuhkan hukuman mati kepada Petrus dengan cara disalibkan di Bukit Vatikan.[1] Menurut kitab apokrif Acts of Peter, ia disalibkan dengan posisi kepala di bawah.[137] Tradisi menempatkan makamnya di lokasi yang kemudian dibangun Basilika Santo Petrus, tepat di bawah altar tingginya.
Paus Klemens I (wafat 99), dalam Surat kepada Jemaat Korintus (Bab 5) yang ditulis sekitar tahun 80–98, berbicara tentang kemartiran Petrus dengan kata-kata: “Marilah kita meneladani contoh mulia dari generasi kita sendiri. Karena iri hati dan kedengkian, tiang-tiang agung dan benar Gereja dianiaya hingga mati. […] Petrus, karena iri hati yang tidak adil, menanggung bukan hanya satu atau dua, melainkan banyak penderitaan, dan akhirnya setelah memberikan kesaksiannya, ia berangkat menuju tempat kemuliaan yang menjadi bagiannya.”[138]
Kitab apokrif Acts of Peter (abad ke-2) (Vercelli Acts XXXV)[139] menjadi sumber tradisi mengenai frasa Latin terkenal “Quo vadis, Domine?” (dalam bahasa Yunani: Κύριε, ποῦ ὑπάγεις Kyrie, pou hypageis?), yang berarti “Ke mana Engkau pergi, Tuhan?”

Menurut kisahnya, Petrus yang melarikan diri dari Roma untuk menghindari eksekusi bertemu dengan Yesus yang bangkit. Dalam terjemahan Latin, Petrus bertanya, “Quo vadis?” Yesus menjawab, “Romam eo iterum crucifigi” (“Aku pergi ke Roma untuk disalibkan kembali”). Petrus kemudian memperoleh keberanian untuk kembali ke kota itu, di mana ia akhirnya mati martir. Kisah ini dikenang dalam lukisan Annibale Carracci. Gereja Quo Vadis, dekat Katakombe Santo Kalistus, menyimpan sebuah batu yang diyakini terdapat jejak kaki Yesus dari peristiwa itu, meskipun tampaknya batu itu adalah ex-voto dari seorang peziarah dan sebenarnya salinan dari aslinya yang berada di Basilika Santo Sebastianus.
Kematian Petrus disaksikan oleh Tertullianus (±155 – ±240) pada akhir abad ke-2 dalam karyanya Prescription Against Heretics, yang menyebut bahwa Petrus menderita sengsara seperti Tuhannya: “Betapa bahagianya gereja itu […] tempat Petrus menderita sengsara seperti Tuhan, tempat Paulus dimahkotai dengan kematian seperti Yohanes.”[140] Pernyataan ini menyiratkan bahwa Petrus dibunuh seperti Yesus (melalui penyaliban) dan Paulus dibunuh seperti Yohanes (dengan penggalan kepala). Hal ini juga memberi kesan bahwa Petrus mati di Roma, karena Paulus juga mati di sana.[141] Dalam karyanya Scorpiace 15, ia kembali menyinggung penyaliban Petrus: “Iman yang baru bertunas pertama kali dibuat berdarah oleh Nero di Roma. Di sanalah Petrus diikat oleh orang lain, sebab ia diikat pada salib.”[142]
Origenes (184–253) dalam Komentar atas Kitab Kejadian III, yang dikutip oleh Eusebius dalam Sejarah Gerejawi (III, 1), menulis: “Petrus disalibkan di Roma dengan kepala ke bawah, sebagaimana ia sendiri menghendaki untuk menderita.”[143] Salib Santo Petrus merupakan bentuk terbalik dari salib Latin berdasarkan penolakannya dan pengakuannya bahwa ia tidak layak mati dengan cara yang sama seperti Juruselamatnya.[144]
Petrus dari Aleksandria (wafat 311), uskup Aleksandria, menulis sebuah surat tentang Tobat, di mana ia menyatakan: “Petrus, yang pertama dari para rasul, setelah sering ditangkap dan dipenjara serta diperlakukan dengan hina, akhirnya disalibkan di Roma.”[145]
Hieronimus (327–420) menulis bahwa “di tangan Nero, Petrus menerima mahkota kemartiran dengan dipakukan pada salib dengan kepala menghadap ke tanah dan kakinya ke atas, menegaskan bahwa ia tidak layak disalibkan dengan cara yang sama seperti Tuhannya.”[130]
Menurut Hieronimus dan Eusebius, Petrus wafat pada tahun 67–68 M, dua puluh lima tahun setelah ia tiba di Roma pada tahun 42 M.[130][146] Beberapa sarjana modern berpendapat tanggal kematiannya antara 64–68 M.[1] Liber Pontificalis juga menyebut masa tugasnya selama 25 tahun, dan menambahkan bahwa ia wafat pada tahun ke-38 setelah kematian Yesus, yang jika dihitung sejak tahun 30 M, juga jatuh pada tahun 67–68. Namun, naskah itu juga secara eksplisit menyatakan bahwa Paus Linus menggantikannya pada tahun 56 M, yang merupakan hasil dari dua tradisi yang saling bertentangan.[147][148]
Dalam sebuah makalah tahun 2025, seorang sarjana berpendapat bahwa kematian Paulus dan Petrus mungkin disebabkan oleh kekerasan intra-komunitas.[149]
Pemakaman
Melihat ke dalam confessio dekat makam Rasul Petrus, Basilika Santo Petrus, Roma
Basilika Santo Petrus, yang diyakini sebagai tempat pemakaman Santo Petrus, terlihat dari Sungai Tiber

Basilika Santo Petrus, yang diyakini sebagai tempat pemakaman Santo Petrus, terlihat dari Sungai Tiber
Gaius, dalam Disputation Against Proclus (198 M), yang sebagian dilestarikan oleh Eusebius, menulis tentang tempat pemakaman para rasul Petrus dan Paulus: “Aku dapat menunjukkan kepadamu trofi para rasul. Jika engkau mau pergi ke Vatikan atau ke Jalan Ostia, engkau akan menemukan trofi mereka yang mendirikan Gereja ini.”[151]
Menurut Hieronimus, dalam karyanya De Viris Illustribus (392 M): “Petrus dimakamkan di Roma, di Vatikan dekat jalan kemenangan, di mana ia dihormati oleh seluruh dunia.”[130] Liber Pontificalis menyatakan bahwa ia dimakamkan pada 29 Juni[147] (Katalog Liberian yang rusak menuliskan tanggal itu sebagai tanggal kematiannya).[152] Beberapa penulis berpendapat bahwa tanggal tersebut sengaja dipilih untuk menggantikan festival Romawi kuno, tetapi hal ini tampaknya tidak mungkin.[153][154][155]

Pada awal abad ke-4, Kaisar Konstantinus I memutuskan untuk menghormati Petrus dengan sebuah basilika besar.[156][157] Karena lokasi makam Petrus sudah begitu diyakini oleh orang Kristen Roma, basilika harus dibangun tepat di atasnya, meskipun lokasinya sulit untuk pembangunan. Lereng Bukit Vatikan harus digali, padahal gereja bisa saja lebih mudah didirikan di tanah datar di selatan.[158] Ada juga masalah moral dan hukum, seperti penghancuran pemakaman untuk menyediakan ruang pembangunan. Titik utama Basilika, baik dalam bentuk aslinya maupun rekonstruksi selanjutnya, adalah altar yang berdiri tepat di atas makam Petrus.[159]
Relikui
Menurut sebuah surat yang dikutip oleh Bede, Paus Vitalian mengirim sebuah salib yang berisi serpihan rantai Petrus kepada ratu Oswy, istri Raja Anglo-Saxon Northumbria, pada tahun 665, serta beberapa relikui santo itu kepada sang raja.[160] Tengkorak Santo Petrus diyakini disimpan di Basilika Lateran Agung Santo Yohanes sejak setidaknya abad ke-9, bersama dengan tengkorak Santo Paulus.[161]
Pada tahun 1950, ditemukan tulang-tulang manusia di bawah altar Basilika Santo Petrus. Banyak yang mengklaim bahwa itu adalah tulang Petrus.[162] Upaya bantahan muncul pada tahun 1953 melalui penggalian di Yerusalem yang diduga sebagai makam Santo Petrus.[163] Namun, bersama dengan makam yang diduga milik Simon (nama asli Petrus), juga ditemukan makam-makam dengan nama Yesus, Maria, Yakobus, Yohanes, dan para rasul lain—meskipun semua nama itu memang sangat umum pada masa Yahudi abad pertama.[164][165]
Pada 1960-an, hasil penggalian di bawah Basilika Santo Petrus diperiksa kembali, dan tulang-tulang itu diidentifikasi sebagai milik seorang pria. Pemeriksaan forensik menyimpulkan bahwa itu milik seorang pria berusia sekitar 61 tahun dari abad pertama. Hal ini membuat Paus Paulus VI pada tahun 1968 mengumumkan bahwa tulang-tulang tersebut sangat mungkin adalah relikui Rasul Petrus.[166] Pada 24 November 2013, Paus Fransiskus untuk pertama kalinya menampilkan sebagian relikui itu, berupa fragmen tulang, dalam Misa di Lapangan Santo Petrus.[167] Pada 2 Juli 2019, diumumkan bahwa Paus Fransiskus telah memindahkan sembilan fragmen tulang itu dalam sebuah relikui perunggu kepada Patriark Ekumenis Ortodoks Bartolomeus dari Konstantinopel.[168] Bartolomeus, pemimpin Gereja Kristen Ortodoks Timur, menyebut tindakan itu sebagai “berani dan berwawasan.”[168] Paus Fransiskus mengatakan keputusannya lahir dari doa dan dimaksudkan sebagai tanda upaya berkelanjutan menuju persekutuan antara Gereja Ortodoks dan Katolik.[169] Namun, sebagian besar peninggalan Santo Petrus tetap disimpan di Roma, di bawah altar tinggi Basilika Santo Petrus.
