Perayaan Efifani

Hari Raya Epifani – Penampakan Tuhan | Paroki Santa Marta

Hari Raya Epifani

Penampakan Tuhan

Corneles M.N. Diogo, S.Ag
Corneles M.N. Diogo, S.Ag

Apa itu Epifani?

Umat Kristen mengenal epifani sebagai Hari Penampakan Tuhan. Istilah keagamaan ini berasal dari kata Yunani “epi”yang berarti pada atau di atas dan “phaino” yang berarti tampil dan bersinar. Kata “Penampakan Tuhan” berasal dari bahasa Yunani, theophaneia (Ind: teofani) atau alternatifnya, epiphaneia (Yun) atau epifani yang secara harafiah berarti penampakan yang mencolok.

Dalam Perjanjian Lama kata “epifani” digunakan dalam 2Mak 15:27 untuk merujuk penyataan diri Allah Israel, sedangkan dalam Perjanjian Baru digunakan dalam 2Tim 1:10 untuk merujuk kelahiran Kristus atau penampakan-Nya sesudah kebangkitan dan kemudian lima kali lainnya merujuk kepada kedatangan-Nya yang kedua. Jadi, Pesta Penampakan Tuhan (Epifani) ini merayakan penyataan (penampakan) martabat Ilahi dari Allah Putra dalam diri Yesus dalam peristiwa-peristiwa hidup-Nya sebelum kebangkitan.

Ilustrasi Kedatangan Para Majus
Kedatangan Para Majus untuk Menyembah Sang Raja

Perspektif Gereja & Sejarah

Dalam penanggalan 12 hari setelah Natal atau setiap tanggal 6 januari kita umat katolik biasanya memperingati hari ini sebagai hari Epifani. Secara filosofi, hari Epifani adalah sebuah permenungan dalam kelanjutan kisah hidup Yesus setelah kelahiran. Epifani dalam prespektif Gereja Barat diperigati sebagai kedatangan orang-orang manjus dari Timur, sementara Gereja Timur lebih fokus pada Pembaptisan Yesus.

Pada awal kekristenan, Epifani merayakan empat momen sekaligus: kelahiran Yesus, kedatangan orang-orang majus, pembaptisan Tuhan, dan Pernikahan di Kana. Baru pada Konsili Tours (567), Gereja menetapkan Natal dan Epifani sebagai hari raya terpisah.

Epifani dan Kapur Imani

Salah satu tradisi yang kaya akan makna adalah “memberkati” rumah dengan kapur. Tradisi ini diadopsi dari Jerman sebagai tanda sukacita Natal dan permohonan berkat. Pastor Paroki akan memberkati Kapur, Air Suci, dan Garam yang kemudian dibagikan kepada keluarga.

20 + C + M + B + 26

20 dan 26 adalah tahun, CMB adalah Christus Mansionem Benedicat (Kristus berkatilah rumah kami) atau inisial para Majus (Caspar, Melchior, Balthasar).

Makna perbuatan itu adalah agar kita yang masuk dan keluar rumah melalui pintu itu mengingat teladan para majus yang merendahkan diri dan menghormati Yesus, Sang Raja, serta mengingat perlindungan Tuhan bagi rumah dan keluarga kita.

Para Majus

Kata “Majus“ menerjemahkan kata Yunani “magos“ yang sangat luas artinya. Bisa berarti filsuf, astronom, atau imam. Kitab Suci tidak pernah menyebutkan berapa jumlah mereka. Kalaupun secara tradisi dikatakan bahwa jumlah mereka adalah tiga orang dengan nama Caspar, Melchior dan Balthasar, hal itu lebih disebabkan karena jumlah persembahan mereka ada tiga jenis (emas, mur, dan kemenyan).

Menurut tradisi, mereka bernama Baltasar (Persia), Melkior (Asia), dan Gaspar (Ethiopia); mereka mewakili ketiga ras besar bangsa manusia di dunia pada waktu itu. Dari tiga orang Majus ini hendak dinyatakan bahwa kehadiran Yesus itu bukan hanya untuk kalangan terbatas bangsa Yahudi, tetapi untuk seluruh bangsa di dunia.

Trilogi Persembahan: Emas, Kemenyan, dan Mur

Para pujangga Gereja mengartikan persembahan para Majus sebagai pengakuan akan identitas Sang Bayi Yesus.

👑

Emas

Emas melambangkan martabat dan kemuliaan raja. Melalui pemberian ini, para Majus menunjukkan penghormatan tertinggi mereka pada Sang Raja yang baru lahir.

Kemenyan

Kemenyan adalah ukupan kudus yang digunakan dalam ibadat kepada Allah. Ini melambangkan keilahian Yesus sebagai Imam Agung yang membawa manusia kepada kemuliaan Tuhan.

🌿

Mur

Mur digunakan untuk membalsem jenazah, melambangkan kemanusiaan dan penderitaan Yesus yang harus dijalani hingga pengorbanan-Nya di Kalvari demi keselamatan manusia.

Perjalanan Relikui Persembahan Kudus

Konon, Bunda Maria memberikan Persembahan Kudus ini kepada Gereja Yerusalem. Relikui ini mengalami perjalanan yang panjang, dari Konstantinopel, diselamatkan dari perang, dan akhirnya dibawa ke Biara Suci St. Paulus di Gunung Athos oleh Permaisuri Naro. Di sana, sebuah Salib didirikan guna mengenang peristiwa itu, yang disebut sebagai “Salib Sang Ratu”.

“SALVE”